June 25, 2017

Pahawang : Serpihan Surga di Teluk Lampung

Pahawang : Serpihan Surga di Teluk Lampung

katadia.com – Pahawang yang berlokasi di kawasan Teluk Lampung memang belum setenar Bunaken, Manado dan Raja Ampat, Papua. Namun demikian, panorama keindahan bawah laut di kawasan Pahawang ini tak kalah menarik dan memesona.

Selain itu lingkungan pulau ini juga masih menghijau dalam tebalnya balutan hutan mangrove alias bakau yang jadi magnet para peneliti. Kawasan perairan pulau ini yang tenang karena masuk dalam ceruk kawasan Teluk Lampung ini cocok untuk para pehobi diving, snorkeling dan mancing. Suasana ini masih berbonus penduduk Pahawang yang welcome dan ramah-tamah kepada setiap pendatang dan wisatawan.

Untuk para penggila diving dan snorkeling ada beberapa spot yang indah dan memesona. Bahkan konon ada salah satu spot terumbu karang soft coral yang tak kalah keindahannya dari Raja Ampat.

IMG_6366

Penasaran? Maka tak salah kalau Pahawang Anda masukkan dalam jadwal liburanmu mendatang. Selain itu pulau Pahawang juga jadi magnet dan surga bagi para mangrover sebutan untuk para pemerhati dan peneliti mangrove. Pulau ini jadi destinasi dan surga para peneliti mangrove tak hanya dari dalam negeri tetapi dunia.

Pulau Pahawang memiliki hutan mangrove/bakau seluas 1.402 hektare dan tercatat memiliki 22 jenis mangrove yang di antaranya menjadi spesies khas Pahawang.

Pulau Pahawang yang merupakan gugusan pulau yang ada di sekitar Teluk Pedada dan merupakan satu dari 21 desa yang ada di Kecamatan Punduhpedada, Pesawaran. Karena banyak potensi yang tersimpan di Pahawang banyak beberapa investor sudah melirik dan berinvestasi di pulau seluas 1.084 hektare itu.

Pulau Pahawang diapit dua pulau yaitu; Pulau Kelagian dan Pulau Lelangga. Sebelum sampai Pahawang, dari atas kapal kita bisa menikmati keindahan panorama Pulau Kelagian. Pulau Kelagian merupakan pulau tidak berpenghuni.

Ombak di perairan sekitar Pahawang kecil dan tenang. Hamparan pasir yang putih sepanjang pantai bersih dan terawat. Pahawang mempunyai terumbu karang dan kekayaan ikan hias yang masih terjaga.

DSC08617

IMG_6372

Dengan menggunakan alat snorkeling kita bisa menikmati keindahan terumbu karang dam biota laut yang lokasinya hanya beberapa meter dari gigir pantai. Gerombolan ikan hias yang warna-warni bersliweran di antara karang-karang.

Beberapa jenis karang yang masih bisa ditemui di sekitar perairan Pahawangm adalah karang jahe, karang kapur, karang otak, karang nanas, karang anemon, dan karang seroja.

Adapun jenis ikannya adalah ikan monyo yang hitam dan kuning, ikan batok biru, ikan tempala, dan ikan naso. Nama ikan dan terumbu karang ini yang biasa digunakan masyarakat Pahawang.

DSC08597

Salah seerang warga Pahawang yang biasa menyeleman, Sulaiman, mengungkapkan keberadaan terumbu karang dan ikan hiasa mulai banyak dibandingkan tahun 1990-an. Masyarakat sudah mulai sadar untuk tidak mengambil terumbu karang dan ikan hias. Penggunaan bom ikan yang menjadi penyebab rusaknya terumbu karang juga sudah dikurangi.

LEGENDA PAHAWANG

Desa Pulau Pahawang sendiri terdiri atas enam dusun. Yakni Suakbuah, Penggetahan, Jeralangan, Kalangan, Pahawang, dan Cukuhnyai. Pulau ini dihuni ratusan jiwa yang berprofesi sebagai nelayan dan petani.

Kalau menyigi soal asal-usul pulau Pahawang ini cukup menarik. Ada dua versi hikayat yang berkembang di khalayak. Pertama, konon pulau ini dinamai Pohawang, karena dulu sekitar pada 1800 yang pertama menemukan dan tinggal di pulau ini adalah perempuan Betawi-China yang bernama Mpok Awang.

Makam yang berada di puncak bukit di tengah pulau yang dikeramatkan masyarakat setempat diyakini oleh warga setempat makam Mpok Awang. Warga pulau ini menyebut kuburan ini keramat.

Yang menarik dan unik dari legenda Mpok Awang dan makamnya ini bisa dipetik pelajaran berupa kearifan lokal sehingga masyarakat setempat tidak berani merambah dan mengutak-atik hutan di kawasan bukit, karena ada keramat alias makam Mpok Awang.

Ini menjadikan hutan di kawasan Pahawang tetap hijau dan lestari. Manfaatnya karena hutan terjaga sumber air di kawasan tersebut tetap lancar, sehingga sebagian air di Pahawang tidak payau apalagi asin seperti pulau-pulau lain di sekitarnya.

Kedua, terdapat hikayat yang berkembang di masyarakat bahwa penduduk yang tinggal di Pahawang berasal dari pesisir Pesawaran. Untuk itu, semua suplai makanan di Pahawang diambil dari pesisir. Pemberian suplai makanan dari pesisir ke pulau ini dalam bahasa Lampung setempat disebut pahaw.

Lambat laun pahaw berkembang menjadi Pahawang. Terlepas dari mana kebenaran asal-usul nama Pahawang, pulau ini memang menyimpan keindahan alam dan kekayaan laut yang luar biasa.

WISATA KONSERVASI

Kini, masyarakat Pulau Pahawang sudah tak lagi menjadi perusak, mereka bahkan sadar betapa hutan mangrove bisa memberikan banyak manfaat kehidupan buat mereka. Kesadaran ini terus dipupuk oleh LSM Mitra Bentala, mulai dari anakanak Pulau Pahawang.

Setelah kemauan itu mulai timbul dari masyarakat Pahawang, Mitra Bentala bersama pamong desa Pulau Pahawang juga berhasil merumuskan sebuah peraturan desa (perdes) tentang keberlangsungan hutan mangrove di Pulau Pahawang.

Perdes ini mengatur mulai dari pembibitan sampai sanksi jika ada masyarakat atau masyarakat luar yang menebang atau merusak hutan mangrove. Selain itu, kini masyarakat setempat juga membentuk Badan Pengelola Daerah Perlindungan Mangrove (BPDPM).

Tak hanya itu saja, Mitra Bentala juga berupaya memperkenalkan program penghijauan ini sejak dini dengan menyisipkannya kegiatan ekstra kurikuler untuk anak-anak sekolah di Pulau Pahawang. Mereka dilibatkan dalam program penghijauan dengan melibatkan siswa-siswi kelas tiga, empat, dan lima menanam pohon mangrove.

”Upaya learning by doing ini dimulai dari menanam, memberikan nama untuk bibit bakau yang mereka tanam sampai mengawasi pertumbuhan bibit bakau,” papar Suprianto, anggota lembaga swadaya masyarakat Mitra Bentala Pulau Pahawang.

pahawang

Kegiatan luar sekolah yang semula menjadi kegiatan nonformal, kini sudah menjadi ekstra kurikuler tersendiri, sampai akhirnya anak-anak Pulau Pahawang memiliki kelompok sendiri, yakni Anak Pecinta Lingkungan (APL), dengan jumlah tanam bibit bakau yang telah dilakukan sebanyak 3.000 batang.

Sekarang, di beberapa sisi Pulau Pahawang sudah rimbun dengan pohon bakau. Sebentar lagi pulau seluas 1.084 hektare itu mungkin akan tenggelam oleh tebal lebatnya hutan mangrove.

Padahal dari era 1970-an hingga 1990- an, pulau Pahawang terkenal masyarakatnya tak kenal kompromi menjarah hutan mangrove. Bakau di kawasan ini habis dijarah tak hanya oleh penduduk setempat, tetapi juga dari luar pulau. Pasalnya, mereka mengincar batang bakau dan cacing bakau untuk mata pencahariannya sehari-hari.

PERJALANAN MENUJU PAHAWANG

Untuk menuju ke Pahawang tidaklah sulit. Perjalanan menuju Pahawang dari Jakarta bisa ditempuh dengan berbagai alternatif lewat udara maupun jalan darat. Dari Bandara Soekarno – Hatta bisa naik pesawat menuju Pelabuhan Radin Intan. Kemudian dari Bandara bisa mencharter Taxi ke dermaga Ketapang, ongkosnya bisa dinegosiasi.

Pilihan lainnya bisa naik kendaraan umum bus Damri reguler Jakarta – Bandar Lampung, dari stasiun Gambir menuju Bandar Lampung. Kemudian dari Bandar Lampung bisa mencarter Taxi atau naik kendaraan angkutan kota menuju desa Ketapang selanjutnya menumpang kapal ke Pahawang.

Atau kalau yang suka bertualang ala backpackers bisa naik bus ngeteng dari terminal bus Kalideres – Merak. Kemudian dari Merak menumpang kapal Feri ke Bakauheni. Dari Bakauheni menumpang travel hingga pangkalan angkot untuk jurusan Padang Cermin di Gudang Garam, Telukbetung terus nyambung naik angkot menuju Ketapang.

Sepanjang jalan kita akan menikmati pemandangan pesisir pantai Teluk Lampung dan hijaunya Taman Hutan Rakyat Wan Abdul Rachman. Sebelum sampai Ketapang kita akan melewati daerah transmigrasi angkatan darat (transad) Hanura yang kini sudah berkembang pesat pesat menjasi sebuah kota kecil.

Dari dermaga Ketapang bisa menggunakan kapal atau perahu yang jarak tempuhnya sekitar 40 menit perjalanan. Selama perjalanan menuju Pahawang kita bisa menikmati pemandangan pesisir Teluk Lampung yang berbukit-bukit begitu memesona. Cocok diabadikan lewat fotografi untuk membingkai kenangan perjalanan.